Tokoh di Indonesia Alumni dari STAN
1) Alexander Mawartagoogle image |
Pendidikan
– SD Plawikan I di Klaten (lulus 1980)
– SMP Pangudi Luhur di Klaten (lulus 1983)
– SMAN I di Yogyakarta (lulus 1986)
– D-IV: STAN, Akuntansi, di Jakarta (lulus 1995)
Beliau juga merupakan hakim Ad Hoc pengadilan tipikor di jakarta. Beliau dikenal sebagai hakim yang kerap menyatakan dissenting opinion atau pendapat yang berbeda. Salah satu kasus besar dimana beliau pernah berpendapat seperti ini adalah kasus suap pilkada Lebak, Banten, dengan terdakwa Ratu Atut Chosiyah. Pada saat uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, pada Senin (14/12), Alex sempat menyinggung soal fungsi supervisi yang dimiliki KPK. Menurut Alex, seharusnya KPK bisa menjadi quality insurance bagi proses penyidikan di Kepolisian dan Kejaksaan.
“KPK seharusnya menjadi quality insurance bagi kepolisian dan kejaksaan. Disparitas dakwaan dan kualitas pembuktian itu sangat jauh. Supervisi belum berjalan optimal,” kata Alex.
Menurut Alexander, perbedaan kualitas penindakan itu sangat ketara di surat dakwaan dan saat proses pembuktian di persidangan. Sebagai hakim ad hoc tipikor Jakarta, Alex sangat paham mengenai kualitas dakwaan para jaksa.
Terlepas dari itu, salah satu ide Alex yang cukup mencuri perhatian yaitu tentang sorotannya soal gaya hidup mewah yang biasanya diidentikkan dengan tindak pidana korupsi. Hidup mewah bisa jadi tanda tanya bila kenyataannya si pejabat negara hanya punya satu pemasukan dari penghasilan yang jumlahnya tidak sebanding dengan harta.
Kesesuaian gaya hidup dengan penghasilan para pejabat negara ini yang menjadi penting. Pengecekan terhadap laporan harta kekayaan perlu dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya penyimpangan.
Upaya ini yang ditekankan Alexander Marwata. Konsep yang disebut lifestyle check ini menurutnya menjadi deteksi awal ada tidaknya dugaan tindak pidana korupsi dengan cara melihat kesesuaian penghasilan dengan gaya hidup penyelenggara negara.
“Konsep ini secara sistematis akan berjalan dari level masyarakat hingga pelaporan ke KPK. Sehingga proses cek dan ricek dari dugaan korupsi akan semakin berjalan efektif,” ujar Alexander saat dihubungi, Selasa (8/12/2015).
Melalui konsep ini, Alex mengajak peran serta aktif masyarakat untuk mengamati perilaku para penyelenggara negara yang memiliki gaya hidup yang tidak sesuai dengan profil penghasilannya.
Alex yang berpengalaman 20 tahun menjadi auditor memang kerap menemukan kejanggalan antara penghasilan dengan transaksi yang dilakukan baik atas nama pribadi maupun bisnis. Pengecekan ini juga bisa dilakukan dengan membandingkan laporan pajak.
“Semisal karyawan setingkat staf tapi sudah memiliki rumah dan mobil mewah yang tidak mungkin dibeli dari gaji selama dia berkerja tanpa ada penghasilan tambahan,” sambung hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi ini.
Upaya pencegahan, menurut Alex, harus dilakukan sejalan dengan upaya penindakan. Nah untuk mengawasi para pejabat negara, maka diperlukan koordinasi kuat antara KPK dengan lembaga atau pun institusi lain.
“Kita akan bekerjasama dengan badan usaha milik negara, lembaga ataupun institusi lain terutama dengan bagian inspektorat jenderal atau pengawasan internal. Serta melakukan sosialisasi mengenai peran aktif masyarakat untuk turut memantau gaya hidup para pejabat di Indonesia dan bekerja sama dengan KPK,” papar dia.
Alex berencana memperkuat direktorat pengawasan di masing-masing instansi. “Saya akan memperkuat fungsi pengawasan dengan menjalin kerjasama dalam langkah prosedur pengawasan, konsultasi pelaksanaan e-budgeting dan e-tender,” ujarnya.
Baca Juga : Alumni STAN yang Menjadi Seorang Tokoh di Indonesia (Part 2)
Tapi butuh peran serta masyarakat untuk ikut mengawasi para pejabat negara. Bila ditemukan kejanggalan utamanya terkait melonjaknya harta kekayaan dalam waktu singkat, maka masyarakat bisa memberi laporan.
“Silakan awasi, catat dan laporkan jika terjadi penyimpangan-penyimpangan terutama penumpukan harta yang abnormal. Korupsi adalah musuh bersama, peran aktif masyarakat akan membuat peran penindakan KPK semakin tajam dalam memberantas praktik korupsi. Dengan semakin ketatnya pengawasan dari masyarakat, akan mempersempit ruang gerak dan kesempatan para oknum pejabat yang hendak melakukan rasuah,” sambung dia.
Dari pernyataan beliau, terlihat jelas bahwa sorotan korupsi oleh bapak alexander sangat dalam. Tidak mengherankan jika beliau menjadi terkenal. Selain itu beberapa karier yang pernah dijalani oleh beliau antara lain :
(1) Divisi Hukum dan HAM di Kanwil HUM HAM DIY (2010 - 2011)
(2) Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM di Direktorat Jendral HAM Kementrian Hukum dan
HAM (2011 - 2014)
(3) Auditor BPKP(Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) (1989)
(4) Wakil ketua KPK
Seperti yang terlihat, Bapak alexander mawarta sendiri lebih banyak berkarier dalam bidang hukum daripada bidang keuangan. Beliau merupakan salah satu contoh yang baik untuk ditiru dengan berbagai prestasinya dalam bekerja.
2) Ito Warsito
google image |
Kariernya semakin melesat sejak masuk Danareksa sejak 1994 hingga 2001. Ito kemudian menjadi CFO (Chief Financial Officer) PT Bahana Securities. Jabatan Direktur Utama pernah Ito Warsito sandang di Bahana pada periode 2003-2009. Pada pencalonan direksi BEI periode 2009, Ito berhasil mengungguli pesaingnya. Ito kala itu menggantikan posisi Erry Firmansyah yang telah menduduki kursi BEI-1 selama dua periode berturut-turut. Setelah dua periode berturut-turut memimpin BEI, Ito telah menyelesaikan kepemimpinannya di BEI dengan menorehkan sejumlah rekor dan kemajuan di bidang pasar modal. Salah satu kemajuannya adalah kesuksesan BEI melakukan transisi teknologi sistem perdagangan bursa melalui Straight Through Processing (STP) di 2012 silam.
Berikut daftar karier bapak ito warsito :
- Staf Badan Akuntansi Keuangan Negara Departemen Keuangan tahun 1994.
- Direktur Investment Banking Danareksa Sekuritas tahun 2001.
- Direktur Investment Banking Bahana Securities tahun 2001.
- Direktur Utama Bahana Securities tahun 2003.
- Direktur Bahana Pembinaan Usaha Indonesia tahun 2006.
- Direktur Utama Bursa Efek Indonesia tahun 2009.
Tito memiliki segudang pengalaman, baik pada otoritas pasar modal, asosiasi, maupun emiten. Sesaat setelah dirinya lulus sarjana, Tito bekerja sebagai Koordinator Marketing di PT 3M (Minnesota, Mining and Manufacturing) Indonesia.
Di perusahaan manufaktur PT 3M tersebut, Tito hanya bertahan selama setahun. Dia hijrah ke industri barang-barang konsumsi dengan menjadi Senior Brand Manager Food & Drinks PT Unilever Indonesia Tbk. Dia bekerja di emiten berkode saham UNVR itu pada 1983-1989.
Akhir era 80-an, Tito kembali putar haluan dan berlabuh di Penta Group (Pentasena Arthasentosa, Warta Arta, Money Broker). Di Penta Group dia diaulat sebagai CEO. Setahun menjabat sebagai bos Penta Group, karir Tito kian gemilang.
Sembari menjabat sebagai CEO Penta Group pada periode 1989-1994, Tito menjadi pengajar di Institute Management Finance and Accountancy pada 1990-1991.
Tidak hanya itu, dia juga duduk sebagai anggota Preparatory Committee of MoF (Forming the Jakarta Stock Exchange) pada 1990-1991 sekaligus anggota Asia Pacific Capital Market Study, conducted by Arthur Anderson International.
Pada 1992, Tito mulai masuk ke PT Bursa Efek Jakarta dengan menjabat sebagai komisaris hingga 1994. Saat bersamaan, dia menduduki kursi ketua Jakarta Broker Club, Wakil Ketua Asosiasi Penjamin Emisi Indonesia (KPEI), Komisaris PT Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI), sekaligus komisaris PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Tito juga menjabat sebagai komisaris Bursa Paralel Indonesia (BPI) pada 1993-1994. Periode berikutnya, dia didapuk sebagai direktur utama BPI. Lepas dari semua jabatan itu, pada 1995-1998 dia menjabat sebagai direktur utama Bursa Efek Surabaya.
Ketika tengah menjabat di BES, Tito juga menjadi Direktur Keuangan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. tepatnya pada 1995-1999. Pada periode yang sama, dia bergabung ke dalam perusahaan milik keluarga Cendana, Siti Hardianti Rukmana atau Mbak Tutut, PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia sebagai managing director.
Tepat pada era milenium, Tito mendirikan perusahaan media cetak PT Media Investor On Line, dan menjadi direktur utama. Dia hanya bertahan selama 2000-2003 di Media Investor, yang kemudian Tito bergabung dengan group konglomerasi milik Hary Tanoesoedibjo.
Dia menjabat sebagai CEO PT Media Nusantara Citra Networks milik Hary Tanoe pada 2004-2007. Lengser sebagai CEO, dia kemudian menjabat sebagai komisaris PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) pada 2007-2009.
Saat ini, sebelum mencalonkan sebagai Dirut BEI, Tito menduduki kursi jabatan di lima perusahaan berbeda. Di antaranya, Komisaris PT Mitra International Resources Tbk., Wakil Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP).
Selain itu, dia juga menjabat sebagai Komisaris BUMD Jawa Barat PT Jasa Sarana, Dirut PT Gerai Motor Terpadu-Triumph Motorcycles Exclusive Official Dealer Jakarta, dan Dirut Magenta Kapital Indonesia.
Di lingkup asosiasi, Tito menjabat sebagai Waketum Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) dan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DKI Jakarta.
3) Sudirman Said
google image |
Ia dikenal sebagai tokoh antikorupsi, pekerja rehabilitasi kawasan bencana, eksekutif di industri minyak dan gas, serta direktur utama perusahaan senjata nasional.Sudirman Said merupakan alumni STAN yang tamat pada tahun 1990 dan melanjutkan pendidikannya di George Washington Universityd dalam studi Master Bidang Administrasi Bisnis.
Berikut adalah perjalanan karir beliau :
1.Aktivis Anti Korupsi (Pendiri dan Ketua Badan Pelaksana Masyarakat Transparansi Indonesia)
2.Penanggung Jawab Sementara Rektor Universitas Paramadina
3.Staf Ahli Direktur Utama PT Pertamina (Persero)
4.Direktur Human Capital PT Petrosea Tbk
5.Group Chief of Human Capital and Corporate Services PT Indika Energy Tbk
6.Wakil Direktur Utama PT Petrosea
7.Executive Director APEC CEO Summit 2013
8.Direktur Utama PT Pindad
9.Menteri ESDM
Meski berlatar pendidikan akuntansi dan bisnis, Sudirman menikmati sebagai aktivitis anti korupsi. Puncaknya, ia diberi tugas membenahi kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Beliau Orangnya teliti dan disiplin. Ini yang selalu Sudirman Said tunjukkan saat masih kecil, di sekolah, kuliah, hingga bekerja.
Ia dikenal aktivis anti korupsi, tapi berbeda dengan aktivis lainnya. Ia berpenampilan rapi dan bukan aktivis jalanan. Ia lebih banyak menyoal transparansi keuangan sebuah lembaga atau instansi. Awal terjadinya korupsi karena tidak adanya keterbukaan anggaran keuangan. Sudirman menjadi aktivis korupsi dimulai mendirikan beberapa organisasi anti korupsi, seperti Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) (2000).
Lembaga ini menuntut perilaku yang bersih dalam mengelola keuangan negara dan perusahaan. Berkat aktif di dunia ini, Sudirman juga diminta untuk mengelola perusahaan. Beberapa perusahaan yang dikelola berkaitan pertambangan, energi, minyak, dan gas. Ia lebih banyak mendapat tugas untuk membenahi budaya korupsi, dan meningkatan produktivitas, dan keuntunngan bisnis melalui pengelohan keuangan yang bersih. Sikap tersebut dilaksanakan tidak hanya di corperate, tapi juga di instansi pemerintah.
Hal itu dibuktikan saat ia diminta menangani Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, 2005-2007. Dia membentuk Satuan Anti Korupsi (SAK) yang bertugas mendidik semua pemangku kepentingan di Aceh dan Nias pasca Tsunami. Sudirman menjelaskan bahwa BRR telah membatalkan tender proyek bermasalah senilai 157 miliar rupiah.
Berbekal menangani anti korupsi di sektor privat dan publik membuat kariernya cemerlang. Presiden terpilih Joko Widodo meminta Sudirman membereskan kementerian yang diduga subur lahan korupsi. Sudirman Said dipilih menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Kabinet Kerja 2014-2019.
Sayang, dalam menjalani tugasnya, Sudirman tak sampai selesai. Ia terkena reshuffle kabinet pada 27 Juli 2016. Presiden Jokowi mengangkat Arcandra Tahar sebagai penggantinya.
Tak lama setelah itu, pada 2018, Sudirman Said dicalonkan Partai Gerindra untuk maju sebagai calon Gubernur Jawa Tengah. Ia berpasangan dengan Ida Fauziyah dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kedua pasangan ini diusung oleh Gerindra, PKB, PAN, dan PKS.
Beliau merupakan salah satu lulusan STAN yang berhasil melebarkan sayapnya ke dunia Eksekutif.Semoga bapak Sudirman Said terus melakukan hal-hal positif untuk memajukan Indonesia.
Itulah tadi list kami tentang Alumni STAN yang Menjadi Seorang Tokoh di Indonesia (Part 1), tunggu postingan kami yang part 2 ya!
Baca Juga : Alumni STAN yang Menjadi Seorang Tokoh di Indonesia (Part 2)
Sumber :
1) https://kuliahgratisindonesia.blogspot.com/2016/01/tokoh-alumni-stan.html
2) https://aeyogy.wordpress.com/tag/biografi-alexander-marwata/
3) Detik.com
4) http://manajemen.bisnis.com/read/20150614/238/443297/jadi-dirut-bei-baru-ini-profil-lengkap-tito-sulistio
5) https://www.viva.co.id/siapa/read/309-sudirman-said
Belum ada tanggapan untuk "Alumni STAN yang Menjadi Seorang Tokoh di Indonesia (Part 1)"
Posting Komentar